Cerita si calon ketua senat

Posted: October 29, 2010 in Cerita si calon ketua senat

Entah kenapa hari ini, karena habis menonton dan membaca buku Soe Hok Gie saya jadi teringat tentang kenangan saat mahasiswa dulu. Ingin rasanya menulis dan bercerita mengenai kenangan2 yang pernah tergores dalam jejak hidup saya.  Tapi sekarang saya hanya akan bercerita sedikit tentang masa dimana saya menjadi calon ketua senat.

Pertanyaan yang selalu ditanyakan rekan2 kepada saya dulu adalah, “Kenapa lo tiba2 mau jadi ketua senat??” Kadang, lidah dan bibir saya lelah juga menjawab pertanyaan ini. Sebenarnya dari sejak tingkat 1 saya mempunyai keinginan untuk menjadi ketua senat (mungkin hanya segelintir orang yang tahu). Dua tahun berlalu (tingkat 3) dan keinginan itu masih ada dalam diri saya. Apalagi saya merasakan hal yang monoton di kampus ini. Saya hanya ingin “perubahan”.

Saat itu posisi saya mirip dengan Herman Lantang dalam film Gie. Saya tidak membawa agama, ras, organisasi, apalagi partai politik. Saya hanya memilih menjadi nasionalis dan non-blok. Saya juga tidak mengerti mengenai politik (yang ternyata terlalu “kotor”).

Begitu menjadi calon ketua senat, tekanan yang saya dapat ternyata begitu tinggi. Anggota tim sukses satu per satu mengundurkan diri (dengan alasan yang tidak dapat diceritakan menurut mereka). Hanya tinggal beberapa teman baik saya yang setia menemani sampai akhir.

Tadinya ada 3 calon ketua, namun dipertengahan kampanye satu calon mengundurkan diri dan bergabung dengan calon yang lain. Jadi sekarang saya 1 lawan 2. Yang ada di pikiran saya adalah bahwa ini “hanya” pemilihan ketua senat, apakah perlu strategi2 politik seperti itu?

Sebenarnya sejak awal, saya tidak berharap menang (karena saya tahu itu hal yang mustahil), saya hanya ingin menunjukkan kepada teman2 dan adik2 saya bahwa jangan pernah takut untuk mencoba sesuatu dan buatlah perbedaan dimanapun kalian berada (karena setahu saya ketua senat hanya dari golongan tertentu saja). Saya hanya ingin “membuka jalan” untuk angga2 lain yang menginginkan perubahan.

Saya mendengar cerita dari kakak kelas kalau ternyata di kelas mereka diberikan selebaran yang isinya kurang lebih berbunyi “jangan memilih pemimpin yang kafir”. Saya hanya bisa tertawa (lagi2 kejadian ini juga ada di film Gie). Mengapa ketua senat saja dihubungkan dengan hal seperti itu?? Sudah saatnya kita berpikiran terbuka dan mau menerima perbedaan.

Kampanye menguras fisik dan mental saya. Sampai akhirnya pengumuman hasil pemungutan suara keluar dan saya kalah. Namun, tidak ada rasa menyesal atau sedih sedikitpun dalam hati saya. Saya cukup puas dengan bisa membuat sedikit perbedaan dan warna baru di kampus ini. Saya hanya ingin kampus ini bisa lebih terbuka. Dalam memilih ketua akan lebih baik kalau kita tidak melihat latar belakang agama dan kesukuan. Lihatlah kinerja, program, visi maupun misi yang dimiliki oleh sang calon.

Semoga suatu saat nanti keinginan saya (yang saya yakin keinginan kita semua) ini perlahan bisa terwujud….

Meminjam kalimat Soe Hok Gie, “Lebih baik saya diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”….

Sekian….

Comments
  1. si ketua senat says:

    You are so brave. One of a kind. And I can see from the election, you absolutely the winner. You win everyone’s heart to be a brave one like you.
    You are not alone. I do hate when people start talking much siht about their own religion and race. You are not alone. Keep fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s